Tulisan (akan) tetap ada untuk waktu yang lama meskipun penulisnya telah terkubur di bawah tanah.
(KH. Muzajjad, 1358 H / 1940 M)
Kutipan berbahasa arab di atas diambil dari tulisan tangan dalam sebuah buku ilmu rubu’ (astronomi Islam) karya KH. Muzajjad, seorang ulama ahli falak sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Djannatul Huda (PPDH) Pati, Jawa Tengah. Ungkapan ini mengandung kekuatan spiritual sekaligus intelektual yang luar biasa. Ia menjadi salah satu fakta baru yang terungkap di sela-sela peringatan haul beliau yang ke-52 pada 31 Juli 2025 lalu. Sebuah pernyataan yang jauh melampaui zamannya, dan bisa disebut sebagai salah satu karomah (kemuliaan) beliau, yakni kesadaran literasi yang mendalam sebagai wujud pengabdian ilmu dan iman.
Namun bagi para ulama sejati, seperti KH. Muzajjad, kesadaran literasi bukanlah sesuatu yang luar biasa. Sebab akar dari semuanya adalah ajaran Islam itu sendiri. Firman pertama (Al-Alaq) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW berbunyi: “Iqra’ bismi rabbikalladzi khalaq”—Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Ayat ini secara langsung menunjukkan bahwa membaca, menulis, dan ilmu pengetahuan adalah pondasi utama peradaban Islam.
Tak berhenti di situ, Allah melanjutkan firman-Nya dalam ayat kelima surat yang sama: “Yang mengajar manusia dengan perantaraan pena.” Pena atau tulisan bukan sekadar alat komunikasi, tapi kendaraan menuju keabadian. Dan itulah yang sedang kita saksikan dari jejak tangan KH. Muzajjad—sebuah tulisan yang tetap hidup meski jasadnya telah lama terkubur dalam tanah.
Rasulullah SAW sendiri mengajarkan pentingnya menulis. Dalam peristiwa Perang Badar, beliau lebih memilih membebaskan para tawanan dengan syarat mereka bersedia mengajar membaca dan menulis kepada anak-anak di Madinah. Dibandingkan membayar tebusan harta, Rasulullah melihat ilmu dan literasi sebagai kekayaan sejati umat.
Ali bin Abi Thalib, sepupu sekaligus menantu Rasulullah, menegaskan hal yang sama dalam ungkapan terkenalnya: “Setiap penulis akan mati, hanya karyanyalah yang abadi. Maka tulislah sesuatu yang membahagiakan dirimu di akhirat nanti.”
Pentingnya menulis juga ditegaskan oleh ulama dan cendekiawan masa kini. Syaikh Yusuf Qardhawi, pemikir besar dari Mesir, menyatakan: “Setiap penulis pasti akan mati dan berlalu. Tetapi waktu akan mengabadikan apa yang ditulisnya.”
Senada dengan itu, Helvy Tiana Rosa, novelis produktif Indonesia, menulis: “Ketika sebuah karya selesai ditulis, maka pengarang tak mati. Ia baru saja memperpanjang umurnya lagi.”

Festival Literasi Jakarta di Universitas Trilogi Kalibata Jakarta, 2016
Jejak-jejak spiritual dan intelektual seperti inilah yang ingin diwariskan para ulama dari generasi ke generasi. Dalam konteks pendidikan modern, semangat ini pernah digaungkan kembali oleh Menteri Pendidikan Anies Baswedan pada 2016 melalui Gerakan Literasi Nasional. Gerakan tersebut memicu banyak pihak untuk terlibat aktif, termasuk Forum Literasi Jakarta (FLJ) yang menginisiasi berbagai pelatihan menulis untuk para guru.
Tak ketinggalan, Ikatan Guru Indonesia (IGI) juga menjadi pionir dalam mengembangkan budaya menulis di kalangan pendidik. Program-program pelatihan literasi yang mereka jalankan telah melahirkan ratusan, bahkan ribuan guru penulis di seluruh penjuru negeri. Mereka tak hanya menulis buku tentang pendidikan, tetapi juga tentang nilai-nilai kehidupan, keislaman, bahkan fiksi yang membangun karakter.
Apa yang diwariskan KH. Muzajjad melalui tulisan tangannya pada tahun 1940 adalah sebuah pesan abadi: bahwa ilmu yang tidak ditulis akan mudah hilang, tetapi ilmu yang ditulis akan menjadi warisan yang menyambung zaman.
Dalam peringatan haul ke-52 beliau, para santri, alumni, dan masyarakat tidak hanya datang untuk bertahlil, tetapi juga untuk membaca jejak sang kyai. Dengan diluncurkannya buku biografi Cahaya Multidimensi Sang Kyai Inspiratif, menyimak penuturan pengalaman santri senior, mauidhoh hasanah dari penceramah, masyarakat kembali disapa oleh ruh KH. Muzajjad yang tak pernah benar-benar mati.
Karena sebagaimana para penulis sejati—mereka memang mati, tetapi tulisannya hidup. Dan dari hidupnya tulisan itu, mereka hadir kembali—untuk menginspirasi, membimbing, dan menerangi. Membaca tulisan KH. Muzajjad yang dikutip pada awal tulisan ini, menziarahi makamnya, dan mengunjungi tempat-tempat peninggalannya, seakan kita sedang disapa dan dapat bersilaturahmi kembali dengan ruh beliau yang tak pernah mati. (Ame)