Selasa pagi, 3 Maret 2026, aula Kementerian Agama Kota Jakarta Timur tampak lebih hidup dari biasanya. Para pengelola kehumasan dari berbagai madrasah dan satuan kerja berkumpul dalam sebuah seminar yang mengangkat tema penguatan peran humas di era digital. Dari MTsN 24 Jakarta Timur, hadir dua peserta: Ali Mustahib dan Suyono, yang mengikuti kegiatan dengan antusias sejak awal hingga akhir.

Kegiatan dibuka secara resmi oleh Affan Sofwan, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Jakarta Timur. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa humas bukan sekadar pelengkap administrasi, melainkan wajah lembaga di ruang publik. Di tengah derasnya arus informasi dan cepatnya penyebaran berita melalui media sosial, menurutnya, setiap satuan kerja harus mampu menyampaikan informasi yang akurat, cepat, dan mencerahkan.

“Jika kita tidak mengisi ruang publik dengan narasi yang benar, maka ruang itu akan diisi oleh pihak lain yang belum tentu bertanggung jawab,” kira-kira demikian pesan kuat yang disampaikan dalam pembukaan.

Materi pertama disampaikan oleh Khairani, Kepala Bagian Tata Usaha Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi DKI Jakarta. Dengan gaya sistematis dan argumentatif, ia memaparkan pentingnya humas sebagai strategi komunikasi lembaga, bukan sekadar dokumentasi kegiatan.

Menurutnya, humas harus mampu membangun persepsi publik berbasis data, fakta, dan kerja nyata. Salah satu gagasan yang ia tawarkan adalah program “One Day One News”—sebuah gerakan produktif agar setiap satuan kerja atau madrasah mempublikasikan minimal satu berita positif setiap hari. Program ini diharapkan menjadi langkah konkret untuk memastikan kiprah Kementerian Agama terus hadir di ruang digital.

Khairani juga mendorong insan madrasah untuk aktif memanfaatkan berbagai platform media sosial seperti Facebook, X, TikTok, dan Instagram. Ia menekankan bahwa konten positif tentang program, inovasi, dan prestasi madrasah harus terus diproduksi guna mengontra berita-berita negatif yang kerap muncul dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

Suasana semakin dinamis ketika Fajar Herlambang, Koordinator Humas Kanwil Kementerian Agama Provinsi DKI Jakarta, tampil sebagai narasumber kedua. Berbeda dengan pendekatan konseptual sebelumnya, Fajar banyak menyisipkan pengalaman praktik baik (best practice) selama menjalankan tugas kehumasan.

Ia menggarisbawahi tiga hal penting: kecepatan merespons isu, konsistensi membangun branding lembaga, dan sinergi antarsatuan kerja. Menurutnya, dalam dunia digital, keterlambatan merespons informasi bisa menimbulkan persepsi yang salah di masyarakat. Karena itu, humas harus sigap, adaptif, dan terampil membaca momentum.

Sesi tanya jawab menjadi bagian yang paling hidup. Banyak peserta terlibat aktif, tidak hanya memberikan pertanyaan, tetapi juga penguatan terhadap materi yang disampaikan. Beberapa peserta mengusulkan agar peran humas di madrasah mendapatkan dukungan lebih serius, terutama dalam hal pendanaan dan fasilitas. Ada pula yang menyampaikan kritik konstruktif agar Kementerian Agama lebih responsif dan cepat dalam menyebarkan informasi resmi ketika muncul isu-isu sensitif.

Diskusi yang terbuka dan kritis tersebut justru memperlihatkan tumbuhnya kesadaran kolektif bahwa humas adalah tanggung jawab bersama, bukan semata tugas struktural. Maka setiap individu yang bertugas di suatu lembaga, dengan sendirinya melekat fungsi kehumasan di tengah masyarakat luas.

Seminar hari itu tidak sekadar menjadi forum berbagi materi, tetapi juga ruang refleksi dan konsolidasi. Para peserta pulang dengan kesadaran baru: di era digital, setiap guru, tenaga kependidikan, dan pengelola madrasah adalah duta informasi lembaga. Narasi positif tidak boleh dibiarkan kalah oleh kabar yang tidak berdasar. Meskipun tetap disadari akan adanya kekurangan dari diri sendiri. Untuk itulah tetap dibutuhkan adanya kritik yang membangun justru untuk menyuburkan kebaikan bersama.

Sesi terakhir diisi materi umum oleh Jumanto, Kasi Pendidikan Madrasah Kemenag Jakarta Timur. “Mumpung kita lagi ketemu, saya ingin mengajak bapak-ibu berdiskusi tentang komitmen kita sebagai warga madrasah”, begitu kurang lebih dia membuka pembicaraan. Selanjutnya ia mengingatkan agar warga madrasah tetap menjaga nama baik institusi, apapun yang terjadi. Dia mengingatkan, apabila ada yang dirasa kurang tepat, sebaiknya dikomunikasikan secara baik dengan pimpinan masing-masing.

Dari ruang aula Kankemenag Jakarta Timur, semangat membangun citra melalui karya dan berita pun digaungkan—bahwa menjaga nama baik lembaga adalah kerja bersama, dan mengisi ruang digital dengan kebaikan adalah keniscayaan. (humas-24)