Jakarta Timur, 28–30 Juni 2026 – MTsN 24 Jakarta Timur resmi ditetapkan sebagai Madrasah Aman Tanggap Bencana (MANTAB) melalui program yang diinisiasi oleh Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Provinsi DKI Jakarta. Peresmian tersebut dirangkaikan dengan kegiatan Sosialisasi Madrasah Aman Tanggap Bencana (MANTAB) yang berlangsung selama tiga hari, mulai 28 hingga 30 Juni 2026, di lingkungan MTsN 24 Jakarta Timur.

Program MANTAB merupakan upaya membangun budaya sadar bencana di lingkungan madrasah melalui penguatan kapasitas guru, tenaga kependidikan, dan peserta didik agar mampu melakukan mitigasi, kesiapsiagaan, serta penanganan awal ketika terjadi bencana.

Dalam sambutannya, Kepala MTsN 24 Jakarta Timur, Guntoro, S.Pd., M.PFis., menyampaikan bahwa terpilihnya MTsN 24 Jakarta Timur sebagai madrasah percontohan merupakan amanah yang harus dijalankan dengan sungguh-sungguh. Menurutnya, lokasi madrasah yang berada di kawasan padat penduduk dengan tingkat risiko kebakaran yang cukup tinggi menjadi alasan penting perlunya kesiapsiagaan menghadapi berbagai potensi bencana.

“Program ini bukan hanya untuk kepentingan sesaat, melainkan menjadi budaya yang harus terus dipelihara. Kesiapsiagaan terhadap bencana harus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga madrasah. Ilmu kebencanaan akan selalu bermanfaat kapan pun dan di mana pun,” ungkapnya.

Perwakilan BAZNAS Provinsi DKI Jakarta sekaligus PIC Program MANTAB, Siti Dariyah, menjelaskan bahwa sosialisasi ini sangat penting sebagai langkah antisipasi, terlebih wilayah Jakarta memiliki berbagai potensi bencana, termasuk dampak kawasan megapolitan. Selain dilakukan di lingkungan sekolah, edukasi kebencanaan juga diharapkan dapat menjangkau masyarakat di sekitar madrasah yang berada di kawasan padat penduduk.

Ia menambahkan bahwa MTsN 24 Jakarta Timur dipilih karena memiliki karakteristik wilayah yang sesuai dengan tujuan program dan diharapkan mampu menjadi role model Madrasah Aman Tanggap Bencana bagi madrasah lain di Jakarta Timur bahkan Provinsi DKI Jakarta.

Selama kegiatan, peserta yang terdiri atas guru dan tenaga kependidikan mendapatkan berbagai materi mengenai mitigasi bencana. Sasaran utama sosialisasi adalah Kelompok Kerja (Pokja) MANTAB, mengingat guru memiliki tanggung jawab jangka panjang dalam menjaga keberlanjutan program, sedangkan peserta didik akan terus berganti setiap tahun.

Program MANTAB dibangun di atas tiga pilar utama, yaitu penguatan fasilitas, manajemen kebencanaan di sekolah, dan pendidikan kebencanaan melalui sosialisasi serta simulasi secara berkala. Sebagai tindak lanjut, Kepala Madrasah menerbitkan Surat Keputusan pembentukan Pokja MANTAB yang terdiri atas Tim Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K), Tim Evakuasi, dan Tim Hubungan Masyarakat (Humas). Pokja inilah yang nantinya bertugas menyelenggarakan sosialisasi minimal satu kali setiap tahun kepada seluruh warga madrasah.

Pada sesi pelatihan, peserta memperoleh materi praktis mengenai pertolongan pertama pada korban bencana, penggunaan alat pemadam api ringan (APAR), serta penyusunan peta mitigasi bencana MTsN 24 Jakarta Timur. Dalam penyusunan peta tersebut, peserta diajak mengidentifikasi titik-titik rawan, jalur evakuasi, lokasi yang tidak boleh dilalui saat keadaan darurat, hingga penentuan titik kumpul yang aman.

Puncak kegiatan ditandai dengan seremoni peresmian MTsN 24 Jakarta Timur sebagai Madrasah Aman Tanggap Bencana (MANTAB). Acara dihadiri oleh berbagai unsur pemerintah dan mitra, di antaranya perwakilan Lurah Penggilingan, Bapak Ahmad yang hadir mewakili Bapak Noval, Bapak Munir dari Bidang Kesejahteraan Rakyat Kecamatan Cakung, jajaran BAZNAS Provinsi DKI Jakarta, BPBD DKI Jakarta, Komite Madrasah, serta para tamu undangan lainnya.

Dalam sambutannya, KH. Ahmad Bahaudin, Kepala BAZNAS Bidang Distribusi dan Pendayagunaan, mengingatkan bahwa bencana dapat terjadi kapan saja tanpa diduga sehingga kewaspadaan harus selalu dibangun. Menurutnya, simulasi MANTAB merupakan sarana efektif untuk meningkatkan kepedulian sekaligus kemampuan masyarakat dalam menghadapi kondisi darurat. Ia juga menjelaskan bahwa sebagian dana zakat yang dikelola BAZNAS dimanfaatkan untuk berbagai program sosial kemanusiaan, termasuk penguatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi bencana.

Sementara itu, Hari Wistantoro dari Kantor Kementerian Agama Kota Jakarta Timur menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya program tersebut. Ia berharap MANTAB menjadi model pembinaan yang dapat direplikasi oleh madrasah lain sebagai bentuk nyata penguatan budaya aman di lingkungan pendidikan.

Pada kesempatan yang sama, Kepala MTsN 24 Jakarta Timur menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan program, di antaranya Pemerintah Kelurahan Penggilingan, Kecamatan Cakung, BPBD DKI Jakarta, BAZNAS Provinsi DKI Jakarta, Komite Madrasah, serta seluruh mitra yang terlibat. Ia berharap pelatihan ini mampu memberikan manfaat nyata, minimal untuk menyelamatkan diri sendiri ketika menghadapi situasi darurat, dan selanjutnya dapat ditularkan kepada seluruh warga madrasah. Ke depan, sosialisasi MANTAB direncanakan menjadi agenda rutin, termasuk diintegrasikan ke dalam kegiatan MATAMUDA (Masa Ta’aruf Murid Madrasah) setiap awal tahun pelajaran.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan simulasi penanggulangan bencana gempa bumi yang melibatkan seluruh peserta yang terdiri dari para guru, karyawan, dan murid. Dalam simulasi tersebut diperagakan prosedur evakuasi, penanganan korban, pemberian pertolongan pertama, hingga koordinasi dengan BPBD DKI Jakarta untuk menghadirkan ambulans sebagai bagian dari skenario penyelamatan. Simulasi berlangsung tertib dan memberikan pengalaman nyata kepada seluruh peserta mengenai pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana.

Melalui program MANTAB, MTsN 24 Jakarta Timur menegaskan komitmennya untuk membangun lingkungan pendidikan yang aman, tangguh, dan siap menghadapi berbagai potensi bencana. Dengan dukungan seluruh pemangku kepentingan, madrasah berharap budaya mitigasi bencana dapat terus tumbuh dan menjadi bagian dari karakter seluruh warga madrasah demi menciptakan lingkungan belajar yang lebih aman dan berkelanjutan.