Jakarta Timur, 24 Agustus 2026 — Lebih dari 250 orang tua siswa MTsN 24 Jakarta Timur mengikuti kegiatan Parenting yang diselenggarakan pada Senin, 24 Agustus 2026. Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 08.00 hingga sekitar pukul 10.00 WIB tersebut menghadirkan Taufan Jamal dari Lembaga Rumah Anak Negeri sebagai narasumber.

Kegiatan diawali tepat pukul 08.00 WIB dengan tilawatil Qur’an yang dibawakan oleh Hafiz, siswa kelas VIII MTsN 24 Jakarta Timur yang beberapa hari sebelumnya berhasil meraih Juara III Qira’ah tingkat Kecamatan Cakung. Lantunan ayat suci Al-Qur’an tersebut mengawali kegiatan dalam suasana khidmat sekaligus menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarga besar madrasah.

Setelah pembacaan Al-Qur’an, acara dilanjutkan dengan sambutan Kepala MTsN 24 Jakarta Timur, Guntoro, S.Pd., M.PFis. Dalam sambutannya, Guntoro menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Taufan Jamal selaku narasumber, Lembaga Rumah Anak Negeri yang telah berkenan berbagi ilmu, pengurus Komite Madrasah yang terus memberikan dukungan terhadap program madrasah, serta seluruh wali murid yang telah meluangkan waktu untuk hadir.

Guntoro menegaskan bahwa pendidikan anak tidak dapat sepenuhnya diserahkan kepada sekolah. Orang tua dan madrasah perlu berjalan bersama dalam mendampingi proses tumbuh dan berkembangnya peserta didik. Menurutnya, kegiatan parenting menjadi penting agar orang tua memiliki bekal yang memadai dalam menghadapi berbagai tantangan pendidikan, terutama di tengah perkembangan teknologi dan penggunaan smartphone yang memberikan pengaruh sangat besar terhadap kehidupan anak-anak.

Sementara itu, Kusuma Hariyanti, selaku perwakilan pengurus Komite Madrasah, menyambut baik pelaksanaan kegiatan parenting tersebut. Ia menyampaikan terima kasih kepada pihak madrasah dan Lembaga Rumah Anak Negeri yang telah menghadirkan narasumber untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman yang bermanfaat bagi para orang tua.

Memasuki sesi utama, Taufan Jamal mengawali paparannya dengan mengajak para orang tua merefleksikan kembali posisi Indonesia sebagai negeri yang dianugerahi kekayaan alam luar biasa. Ia mengajak peserta untuk mensyukuri anugerah negeri yang dahulu dikenal sebagai Nusantara.

Menurut Taufan, seandainya kekayaan bangsa dikelola dengan baik dan benar, masyarakat Indonesia semestinya dapat hidup lebih sejahtera, termasuk dalam memperoleh pendidikan yang berkualitas. Kesejahteraan guru pun menjadi salah satu bagian penting dari ekosistem pendidikan karena guru yang sejahtera akan lebih mampu menjalankan tugas pendidikan secara optimal.

Namun, kondisi ideal tersebut belum sepenuhnya dapat dinikmati masyarakat hingga saat ini. Karena itu, menurut Taufan, salah satu hal yang dapat dilakukan sekarang adalah memastikan generasi penerus, khususnya Generasi Alpha, memperoleh lingkungan tumbuh yang sehat dan perlakuan yang baik dari orang tua maupun guru.

“Didiklah anak sesuai zamannya, karena mereka hidup bukan di zamanmu,” demikian prinsip yang dikutip Taufan dari Ali bin Abi Thalib untuk menggambarkan pentingnya memahami karakter zaman yang dihadapi anak-anak saat ini.

Taufan menekankan bahwa mendidik anak sesuai zamannya bukan berarti membiarkan anak mengikuti semua perkembangan zaman tanpa batas. Sebaliknya, orang tua perlu memahami karakter, potensi, kebutuhan, serta kecenderungan anak agar pendampingan yang diberikan benar-benar sesuai.

Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah kecenderungan kecerdasan anak. Dari beragam jenis kecerdasan yang dimiliki manusia, setiap anak dapat memiliki kecenderungan yang berbeda. Karena itu, orang tua perlu mengenali potensi yang paling menonjol pada anak dan membantu mengembangkannya secara optimal.

Macam-Macam Kecerdasan (Howard Gardner)
  • Linguistik-Verbal: Kemampuan mengolah kata dan bahasa secara efektif baik secara lisan maupun tulisan.
  • Logis-Matematis: Kemampuan berpikir logis, menganalisis masalah, dan menghitung angka atau pola ilmiah.
  • Visual-Spasial: Kemampuan memahami ruang, bentuk, serta memvisualisasikan ide dalam bentuk gambar atau 3D.
  • Kinestetik-Jasmani: Keterampilan mengontrol gerakan tubuh, keseimbangan, dan koordinasi fisik.
  • Musikal: Kepekaan mengenali, menciptakan, dan mengapresiasi nada, irama, serta melodi.
  • Interpersonal: Kemampuan memahami, berempati, dan berinteraksi secara baik dengan orang lain.
  • Intrapersonal: Kesadaran diri yang tinggi untuk mengenali emosi, motivasi, dan potensi diri sendiri.
  • Naturalis: Kepekaan mengenali dan mengklasifikasikan elemen alam, flora, serta fauna.
  • Eksistensial: Ketertarikan dan kemampuan merenungkan hakikat keberadaan manusia, makna hidup, serta alam semesta.

Anak juga tidak harus dipaksa menguasai semua bidang dengan tingkat kemampuan yang sama. Setiap anak memiliki kekuatan dan bidang yang mungkin berbeda. Tugas orang tua adalah menemukan potensi tersebut, kemudian memberikan ruang yang cukup agar anak dapat berkembang dan mencapai kematangan sesuai dengan kekuatannya.

Selain kecerdasan, karakter dan kepribadian anak juga perlu dipahami. Anak yang cenderung introvert tentu memiliki cara berinteraksi dan belajar yang berbeda dengan anak yang lebih ekstrovert. Perbedaan tersebut merupakan bagian dari keunikan masing-masing anak dan tidak seharusnya menjadi alasan untuk membanding-bandingkan mereka.

Taufan mengingatkan para orang tua agar tidak membandingkan anak dengan teman-temannya, bahkan dengan saudara kandungnya sendiri. Kebiasaan membandingkan dapat memberikan tekanan psikologis kepada anak dan memengaruhi kepercayaan dirinya.

Dalam proses pendidikan, cara orang tua berkomunikasi juga menjadi perhatian penting. Bentakan dan perlakuan kasar bukanlah cara yang tepat untuk membangun karakter anak. Sebaliknya, anak membutuhkan komunikasi yang penuh perhatian, kasih sayang, penghargaan, sekaligus batasan yang jelas agar dapat berkembang secara optimal.

Paparan tersebut mendapat perhatian serius dari para peserta. Lebih dari 250 orang tua mengikuti kegiatan dengan antusias sejak awal hingga akhir. Suasana kegiatan berlangsung khidmat dan interaktif. Bahkan setelah sesi resmi berakhir, sejumlah orang tua masih memanfaatkan kesempatan untuk berdiskusi secara informal dengan Taufan Jamal dan menyampaikan berbagai pertanyaan seputar pendidikan serta pendampingan anak.

Antusiasme tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan akan wawasan parenting semakin dirasakan oleh para orang tua. Mereka berharap kegiatan serupa dapat kembali dilaksanakan pada masa mendatang karena dinilai memberikan bekal penting dalam mendampingi putra-putri mereka menjalani proses pendidikan di MTsN 24 Jakarta Timur.

Kegiatan parenting ini sekaligus memperkuat semangat kolaborasi antara madrasah, orang tua, komite, dan berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap pendidikan anak. Sebab, keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh apa yang berlangsung di ruang kelas, tetapi juga oleh bagaimana anak mendapatkan pendampingan di rumah dan lingkungan sosialnya.

Dengan pemahaman yang lebih baik terhadap karakter, kecerdasan, kepribadian, dan tantangan zaman yang dihadapi anak, diharapkan para orang tua MTsN 24 Jakarta Timur semakin siap menjadi pendamping utama bagi putra-putrinya dalam tumbuh, belajar, dan meraih masa depan. – humas.24