JAKARTA TIMUR – MTsN 24 Jakarta Timur meluncurkan tempat pengumpulan barang bekas khusus botol plastik pada Senin, 12 Oktober 2026. Kegiatan ini menjadi langkah nyata dalam membangun kepedulian terhadap lingkungan madrasah sekaligus mendukung gerakan ekoteologi yang dicanangkan Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, beberapa waktu lalu.
Peluncuran tempat pengumpulan botol plastik tersebut berlangsung dalam rangkaian kegiatan Jakarta Madrasah Competition (JMC). Inisiatif ini menjadi salah satu upaya madrasah untuk berlomba-lomba dalam kebaikan melalui aksi sederhana yang memiliki manfaat nyata bagi lingkungan.
Tempat pengumpulan botol plastik ini lahir dari gagasan Suyono, salah satu guru MTsN 24 Jakarta Timur. Dengan memanfaatkan sejumlah meja rusak yang sudah tidak terpakai, Suyono berinisiatif mengubah barang-barang tersebut menjadi sarana pengumpulan botol plastik. Langkah kreatif ini tidak hanya memberikan fungsi baru pada barang bekas, tetapi juga menjadi contoh penerapan prinsip pemanfaatan kembali barang yang masih memiliki nilai guna.

Pak Suyono dan Tim Kreator
Melalui fasilitas tersebut, warga madrasah diharapkan tidak lagi membuang botol plastik begitu saja, melainkan mengumpulkannya pada tempat yang telah disediakan. Dengan demikian, sampah plastik dapat dikelola dengan lebih baik, sementara lingkungan madrasah tetap terjaga kebersihan dan kenyamanannya.
Kegiatan peluncuran dilakukan oleh Kepala MTsN 24 Jakarta Timur, Guntoro. Dalam sambutannya, Guntoro menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas inisiatif yang telah dilakukan. Ia berharap fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal oleh para siswa dan seluruh civitas akademika sebagai bagian dari kebiasaan menjaga lingkungan.
Menurutnya, langkah sederhana seperti mengumpulkan botol plastik memiliki makna penting dalam membangun kesadaran bersama untuk mengurangi sampah, meminimalkan kemubaziran, serta menjaga kelestarian bumi agar tetap bersih dan sehat.

Proses pembuatan
Kegiatan ini juga sejalan dengan semangat Ekoteologi Kementerian Agama, yakni pendekatan yang mengintegrasikan nilai-nilai ajaran agama dengan kesadaran dan upaya pelestarian lingkungan hidup. Dalam perspektif tersebut, menjaga alam bukan semata-mata persoalan kebersihan, melainkan juga bagian dari tanggung jawab moral dan spiritual manusia sebagai makhluk ciptaan Allah SWT.
Pemanfaatan kembali meja-meja rusak menjadi tempat pengumpulan botol plastik mencerminkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat dimulai dari hal-hal sederhana di sekitar kita. Melalui tindakan nyata, madrasah berupaya menanamkan nilai tanggung jawab, kepedulian, dan kebiasaan hidup ramah lingkungan kepada para siswa.
Momentum Jakarta Madrasah Competition pun menjadi ruang untuk menghadirkan prestasi yang tidak hanya berorientasi pada kompetisi, tetapi juga pada kontribusi positif bagi kehidupan. Semangat berlomba-lomba dalam kebaikan diwujudkan melalui aksi yang mendukung terciptanya lingkungan pendidikan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan.
Pada akhirnya, inisiatif ini diharapkan menjadi langkah awal bagi tumbuhnya budaya peduli lingkungan di MTsN 24 Jakarta Timur. Semoga upaya sederhana tersebut menjadi ungkapan rasa syukur atas anugerah Allah SWT berupa bumi, tempat manusia menjalankan tugas-tugas kehidupannya sekaligus mengemban amanah sebagai khalifah di muka bumi.
Dengan semangat ekoteologi, seluruh warga madrasah diajak untuk terus merawat alam, mengurangi kemubaziran, dan menjadikan kepedulian lingkungan sebagai bagian dari ibadah serta pengamalan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari. (humas-24)